Di tanah Mesir, tepatnya di
Zeitun, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus datang mengunjungi dunia
di bulan April 1968. Zeitun, sebuah distrik di
pinggiran kota Kairo, membatasi daerah yang pernah menjadi
bagian Heliopolis ( Bangsa Mesir mengenalnya dengan nama On,
dalam bahasa Yunani dikenal sebagai Kota Matahari ). Sekarang Zeitun memiliki
banyak penduduk, padahal beberapa tahun yang lalu, Zeitun merupakan
pinggiran kota Kairo yang sebagian besar adalah wilayah gurun
pasir dan berlokasi kira-kira 10 mil dari Sungai Nil. Dengan bertambahnya penduduk
dan dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang membawa irigasi,
daerah ini menjadi berkembang. Bangunan-bangunan
dan taman-taman bertebaran di daerah gurun yang kering ini
dan akhirnya dibagi-bagi menjadi beberapa distrik di pinggiran
kota Kairo. Zeitun
sebagai salah satu distrik kota Kairo dikelilingi oleh daerah
Matariya, Ayn Shams dan Heliopolis.
Di persimpangan
Jalan Tumanbay (jalan raya utama) dan jalan Khalil di Zeitun,
ada sebuah gereja Koptik Ortodoks yang diberi nama Gereja Santa
Maria, nama yang diambil untuk menghormati Sang Perawan. Nama Khalil diambil dari nama
keluarga Khalil Ibrahim, keluarga yang sangat besar dedikasinya
pada gereja ini. Pada
tahun 1918, salah satu anggota keluarga kaya raya ini memiliki
tanah kecil di Zeitun. Ia
sedang mengalami krisis keluarga. Lalu Bunda Maria menampakkan
diri dalam sebuah penglihatan atau mimpi dan mengatakan padanya
agar membangun sebuah gereja Koptik (Gereja Ortodoks di Mesir
berdasarkan tahta Santo Markus) di atas tanah itu untuk menghormati
Bunda Maria. Bunda Maria
berjanji akan memberkati gereja itu dalam waktu 50 tahun. Maka, dibangunlah gereja itu dengan
alasan tersebut. Gereja
itu selesai dibangun pada tahun 1924. Jika
anda melihat di bagian dalam kubah yang besar dari gereja ini,
kita akan menemukan lukisan Perawan Maria.
Sekarang,
gereja ini berada di tengah kesibukan sehari-hari. Dari jalan-jalan sibuk disekelilingnya,
orang-orang datang dan pergi dengan urusannya, kadang berhenti
sebentar, memasuki gereja dan membungkukan kepala mereka untuk
berdoa. Pohon-pohon disekeliling gereja
memberi keindahan tersendiri. Matahari memperanggun gereja
ini dengan kehangatan sinarnya, dan di malam hari, sinar bulan
memperindah dengan refleksi bangunannya. Tetapi Tuhan kita memperanggun
gereja kecil ini dengan sinar yang lebih terang dari banyak
sinar matahari atau bulan. Rahmat-Nya benar-benar telah
menghentikan rutinitas sehari-hari Zeitun.
Bisakah
anda bayangkan, kebahagiaan apa yang datang ke hati dan pikiran
orang-orang beriman di Zeitun saat mereka tidak takut lagi,
dan kagum atas fenomena yang terjadi pada tanggal 2 April 1968. Mereka sadar sepenuhnya bahwa
dengan rahmat Tuhan, figur bergerak yang mereka lihat dengan
mata mereka sendiri di kubah gereja itu adalah transfigurasi
dari Bunda Maria sendiri!
Foto yang bisa anda lihat disini diambil
oleh Fawzi Mansour, seorang arsitek yang tinggal di Heliopolis,
dibuat pada hari-hari awal penampakan Bunda Maria. Lihatlah betapa salib yang
terbuat dari semen di depan Bunda Maria sepertinya memancarkan
kilatan sinar. Menurut
berita di harian Mesir Watani, kejadiannya adalah sebagai berikut: “Hari itu adalah hari Selasa,
2 April 1968, pukul 8.30 malam. Beberapa pekerja di hanggar
milik Angkutan Kota yang terletak di seberang gereja sedang
melakukan pergantian jam kerja. Ada
juga beberapa wanita yang sedang menyeberangi jalan. Tiba-tiba, muncul gerakan-gerakan
yang aneh di tengah-tengah kubah gereja dimana terpancang sebuah
salib. Gerakan ini menarik perhatian
para wanita tadi dan dua dari pekerja yang sedang menikmati
secangkir teh di pintu masuk hanggar (mereka adalah kaum Muslim).
Pemandangan
yang nampak dalam gelap adalah seperti seorang gadis muda dengan
pakaian putih yang berlutut dibawah salib yang terletak di
atas kubah gereja. Hal
ini sangatlah aneh karena kubah itu begitu bulat, dengan permukaan
yang sangat licin. Semua
pria dan wanita pejalan kaki terpaku di tempat mereka masing-masing.
Saat mereka
semua menunjuk ke kubah, seorang pekerja berteriak kepada gadis
muda itu agar tidak melompat turun. Karena
ia tidak bisa melihat wajahnya, ia berpikir gadis itu hendak
bunuh diri. Pekerja
itu lalu berbicara dengan seorang pria disebelahnya dan setiap
orang mulai berbisik. Lalu
bisikan-bisikan itu berubah menjadi teriakan peringatan. Gadis itupun berdiri.
“Mereka
semua melihatnya seperti berpakaian terang cahaya, sama seperti
pemandangan yang sering dihubungkan dengan Perawan Maria. Salah satu wanita yang ada
di sana berteriak “Za Gha ruta” atau teriakan kebahagiaan. Tanpa sadar, dia berteriak: “Settena
Mariam,” yang berarti “Bunda kita, Maria.” Wanita itu lalu meminta berkat
dari Bunda Maria.
Seseorang
bergegas mencari pastur, yang lain mencoba mencari pasukan
penolong. Lalu wanita
itu menghilang. Seorang
pekerja di hanggar yang telah menunjuk dengan jari telunjuknya
yang diperban kepada Bunda Maria dan berteriak: “Ibu, jangan
melompat”. Pekerja
itu dijadwalkan untuk melakukan operasi amputasi jari esok
harinya karena pembusukan, tetapi saat penutup luka dibuka,
dokter menyatakan bahwa jarinya sembuh total.
Kejadian-kejadian setelah pemberitaan
di koran-koran seperti Egyptian Gazette, Watani dan koran-koran
lain tidak akan dapat menceritakan kembali dengan utuh karena
akan melibatkan banyak saksi dan keterangan dari jutaan jiwa
dan emosi-emosi mereka. Dampak keseluruhan dari penampakan
ini tidak dapat begitu saja dilupakan. Penganut Kristen lebih sedikit
dari kaum Muslim di Mesir, tetapi doa-doa penganut Kristen
tidak pernah putus. Tidaklah
mengherankan atau aneh bagi kita - orang-orang di luar Mesir
yang mengetahui keadaan di dalam Mesir - untuk menemukan keajaiban
yang terjadi di Gereja Santa Maria. Allah
Bapa telah memilih Maria karena ketaatan dan kerendahan hatinya
untuk menjadi Bunda sang Penebus. Peran Maria dalam Rencana
PenebusanNya tidak dapat disangkal. Untuk yang percaya, Maria
bukanlah obyek penyembahan. Maria
mendapat hormat yang dalam dari orang-orang yang mengetahui
kasih Allah dan yang mengetahui bahwa lewat kasih-lah mereka
dapat bertahan dalam pengharapan untuk seluruh manusia.
Foto yang
lain diambil oleh fotografer dari Jerman yang datang ke Kairo
untuk mengambil film bagi stasiun televisi. Foto tersebut mencerminkan bagaimana
saya bertemu dengan Perawan Maria pada 13 Agustus 1968, jam
4.30 pagi. (Dalam 3 minggu kunjungan saya ke Mesir di bulan
Agustus 1968, saya menghabiskan total waktu 8 hari di Gereja
Santa Maria, Zeitun). Saya
telah menghabiskan 4 malam pertama di Gereja Zeitun dan tidak
melihat apa-apa.
Pada malam
kelima, kira-kira pukul 4.15 pagi, saya melihat empat kilatan
atau kobaran api berwarna kuning yang menyelimuti depan gereja. Selanjutnya, kira-kira pukul
4.30 pagi, Perawan Maria menampakkan figurnya secara utuh dengan
kedua belah tangannya di samping dan kemudian, secara perlahan-lahan,
tangan itu bergerak, mengatup dalam sikap doa. Dua meteor atau bintang jatuh
yang seolah-olah bergerak turun dari surga, membentuk salib
di belakang kepalanya. Dia
menghilang dan
kembali lagi dalam posisi yang sama sekali lagi. Saya mengucapkan doa Rosario,
sesuatu yang tak pernah saya lakukan sebelumnya. Orang banyak
dari segala penjuru terus membanjiri gereja Santa Maria, semuanya
memohon perantaraan Bunda Maria dalam memuji Allah.
Setelah
saya berkunjung tiga kali lagi, pada malam kunjungan yang ketiga,
saya melihatnya sebentar. Kali
ini, seberkas sinar tampak melingkupi gereja dan dia berdiri
disana, di atas tanah di sebelah gereja Santa Maria dengan
posisi yang sama seperti yang kita kenal lewat patung penampakan
Bunda Maria di Fatima. Dia
menampakkan diri, lalu menghilang dan lalu menampakkan diri
lagi, setiap kali membungkuk dan bergerak seperti manusia hidup. Anak laki-laki saya, Nagi,
pada umur 9 tahun melihat siluet Perawan Maria.
Berikut
adalah pernyataan seorang saksi mata yang kata-katanya menggambarkan
dengan tepat penglihatan yang saya dapat:
“Saya melihat
pemandangan yang bermandikan cahaya terang dengan lingkaran
biru yang terbingkai kilatan cahaya. Perlahan-lahan,
pemandangan itu menjadi lebih jelas, hingga figur Maria menjadi
lebih jelas bagi banyak orang-orang yang berkumpul memenuhi
wilayah di sekeliling Gereja Zeitun. Lingkaran kilatan cahaya, bagi
saya, sepertinya melambangkan
kesempurnaan yang kekal, sebagai perbandingan yang kontras
dengan waktu kita yang terbatas di dunia.”
Setelah tanggal 2 April, sejalan
dengan pergerakan waktu, banyak saksi yang mengatakan melihat
Bunda Maria setiap malam harinya. Sejak awalnya, sepertinya Bunda
Maria keluar menemui pria, wanita dan anak-anak dari balik
tirai yang tak kelihatan. Sewaktu
dia datang, Tuhan kita Yesus Kristus-lah yang membukakan
tirai itu baginya. Dia
tidak akan melakukannya sendiri. Dua ribu tahun yang lalu,
Bunda Penebus kita dan Puteranya, Yesus Kristus, dikenal oleh
Santo Markus. Bersama
Santo Petrus, Santo Markus melakukan perjalanan dan berakhir
di Alexandria, Mesir. Di
sinilah tempat pertama kali Santo Markus memulai pewartaan
iman Kristiani dan menjadi Uskup pertama Gereja Kristen Mesir
(dikenal dengan sebutan Gereja Koptik Ortodoks).
Pada saat
ini, Yang Mulia Shenouda III, adalah pengganti Santo Markus
yang ke 117 dalam suksesi apostolik. Mesir
memiliki kira-kira 40 juta penduduk yang mayoritas beragama
Islam. Sepuluh
juta penduduknya adalah umat Kristen dan kebanyakan memeluk
Koptik Ortodoks. Di
seluruh wilayah Timur Tengah, ada kira-kira 20 juta penganut
Koptik Ortodoks. Kepada umat Koptik Ortodoks inilah
Bunda Maria menampakkan diri sebagaimana ia dilihat oleh banyak
umat yang sedang berada di seputar Gereja. Penampakkan Bunda Maria terjadi
selama hampir 2 tahun dengan frekuensi 2 hingga 3 kali dalam
seminggu. Seseorang
harus berada di gereja Santa Maria Zeitun untuk menyaksikan
kehadirannya. Waktu
penampakannya tidak dapat diperkirakan. Bunda Maria lebih sering menampakkan
diri pada hari-hari raya Gereja atau sehari sebelumnya. Ada 32 hari raya Gereja dalam
kalender Koptik Ortodoks untuk menghormati Ibunda Yesus, Santa
Perawan Maria.
Semburan
sinar akan muncul diatas gereja, dan kemudian di dalam sinar
tersebut, sang Perawan akan muncul.
Dalam beberapa
malam, Bunda Perawan Maria akan menampakkan diri untuk waktu
beberapa menit hingga 8 jam. Umat dapat melihatnya dan
lalu pulang untuk mengajak keluarganya ke gereja, mengajak
teman-teman atau mengambil kamera, dan kembali ke gereja lagi
untuk menemui Bunda Maria dalam kemuliaan Allah. Bunda Maria terlihat dalam
ujud penuh, bergerak seperti manusia biasa, membungkuk kepada
orang banyak. Terkadang,
dia memegang pucuk daun palem yang dilambaikannya kepada orang
banyak sebagai berkatnya. Terkadang,
dia memegang salib yang dipakainya untuk memberkati orang banyak. Dalam
waktu lainnya, dia terlihat berseri-seri dan bercahaya, dengan
mahkota bintang, melayang-layang melintasi Gereja, kakinya
terlihat tidak menyentuh atap gereja.
Setelah
beberapa waktu lewat penampakannya yang intensif, banyak yang
mencoba membuat fotonya. Tetapi
saat penampakan berlangsung, kebanyakan dari mereka begitu
terpesona, takjub dan diliputi kebahagiaan tak terhingga sehingga
tak mungkin untuk melakukan apa pun. Tangan dan jari tidak dapat
digerakkan untuk menekan tombol kamera. Tetapi, dengan rahmat Tuhan,
dan juga untuk bukti bagi keturunan kita, foto-foto berhasil
juga dibuat.
Pada pagi
13 April, dua buah foto diambil oleh Wagih Risk Matta (yang
telah menulis buku yang sangat indah dalam bahasa Arab tentang
penampakan Santa Maria yang disertai lebih dari 12 foto-foto). Hanya cahaya disekitar figur
Maria di lantai Gereja
nampak dalam foto-foto ini. Jika
Anda pernah datang ke sana dan melihat penampakannya, Anda
dapat melihat figur Bunda Maria di dalam foto-foto itu, meskipun
film kamera hanya menangkap sinar disekeliling figur Maria. Lihatlah
kepala dalam gambar pertama.
Dalam gambar
kedua, kepala terlihat mulai menghilang. Saya teringat akan sebuah
bacaan tentang penampakan Maria di Fatima, Portugal tahun 1917. Saat ketiga anak-anak yang
telah melihat Perawan Maria ditanya secara terpisah, mereka
mengatakan bahwa kepalanya terlihat menghilang dahulu.
Foto-foto
ini diambil saat penampakan Maria selama 10 menit dengan selang
waktu 5 menit yang diterbitkan oleh koran-koran di Mesir. Foto-foto ini tidak mengundang
komentar banyak pihak karena, seperti yang saya katakan sebelumnya,
figur Bunda Maria tidak tampak jelas. Kepala Bidang Fotografi dari
koran semi-resmi Mesir, Al Ahram, mengatakan bahwa tidak ada
permainan dalam pencetakan foto-foto itu. Wagih Risk Matta sendiri
memperoleh penyembuhan saat mengunjungi Gereja Zeitun.
Ini adalah
foto lain yang dibuat oleh Wagih Risk Matta. Obyek yang menyerupai burung
merpati, bulat dan berwarna keemasan terlihat memancarkan cahaya
dan biasanya terlihat dengan sayap-sayap yang tidak bergerak. Petugas Kebun Binatang Kairo
yang dimintai keterangan dan datang ke Zeitun menyatakan bahwa
burung merpati tidak terbang di malam hari. “Jika dipaksakan, mereka
akan jatuh ke tanah”. Burung-burung
merpati secara spiritual terlihat sebelum dan sesudah penampakan
Bunda Maria, setiap jam saat malam hari dan menjelang petang. Terkadang,
burung-burung itu muncul dalam hitungan dua atau tujuh ekor
yang membentuk salib, terkadang 12 ekor dalam sebuah formasi
dan selalu ada seekor yang menjadi pemimpinnya. Jika mereka menghilang, mereka
akan kembali dengan formasi yang sama.
Foto ini
dikirim oleh editor koran Watani. Michael Takla mengatakan
bahwa foto ini diambil oleh “seorang saksi mata yang terpercaya,
seorang wanita dari Alexandria.” Saya tidak memiliki namanya. Foto
ini sama dengan foto yang diambil oleh pemotret asal Jerman
tetapi memperlihatkan rupa dari merpati-merpati atau obyek-obyek
sedang terbang yang dilihat oleh saksi mata yang hadir saat
itu di Gereja.
Seluruh
foto, gambar, lukisan yang diperlihatkan disini telah dibuktikan
oleh banyak saksi mata dengan ekspresi berbeda-beda. “Dia nampak sama seperti
ini!” “Ya, seperti
inilah saat saya melihatnya!” “Dari
mana engkau mendapatkan foto ini?” “Ya, beginilah saya melihatnya
pada tanggal 1 April 1968!” dan sebagainya dan sebagainya.
Pengkajian
dengan komputer oleh pakar-pakar telah pula dilakukan dan hasilnya,
mereka menyatakan tidak adanya tipuan kamera.
Para perupa
yang hadir saat penampakan di Zeitun menggunakan talenta mereka
untuk menggambar apa yang telah mereka lihat, dan tampaknya
mereka lebih menangkap keindahan surgawi Bunda Maria dibanding
dengan foto-foto yang dibuat. Saat
benar-benar bertemu Bunda Maria, sangatlah sukar untuk secara
jelas melihat bagian-bagiannya. Tetapi beberapa dari mereka
dapat menangkap rambutnya, matanya, tangannya, bentuk tubuhnya
dan warna kulitnya. Bunda
Maria kebanyakan digambarkan “gelap dan bercahaya” dan “putih
kebiru-biruan” atau “biru keputih-putihan”. Terkadang kekuningan dan
bersinar, berkilauan, cantik, muda, sehat, seperti seorang
ratu. Lukisan
di bawah halaman ini dikerjakan oleh Sabri Ibrahim pada tahun
1973. Katanya, beginilah ia melihat
Bunda Maria di tahun 1968 di Gereja Zeitun. Lukisan berwarna ini, sedikit
lebih besar daripada aslinya, sekarang digantung di pintu masuk
Gereja Santa Maria. Bagi
yang pertama kali melihatnya, lukisan ini akan mengundang decak
kagum.
Gambaran
para perupa akan Bunda Maria, Zeitun.
Pastur Morcos,
seorang pastur Coptic menjadi saksi mata penampakan Bunda Maria
pada tahun 1968. Ia
mengatakan, “dan turunlah bias-bias sinar dari tangannya seperti
ini!”. Bias-bias
sinar itu akan keluar dari tangannya kepada orang-orang dan
menembus tanah. Kita tahu dari wahyu-wahyu
bahwa cara ini adalah rahmat Tuhan dalam memberikan berkatNya
kepada kita lewat saluran rahmatNya, yaitu Bunda Maria, ibundaNya.
Seorang saksi mata menggambarkan Bunda Maria seperti “disanalah
dia, disudut Gereja, membungkukkan badannya sebatas pinggang
kepada kita semua!!!! Saya
tak dapat mempercayainya! Tetapi
memang dia ada disana, SAYA MELIHATNYA!!”
Kesembuhan
juga terjadi. Ini
menambah kebahagiaan yang meliputi penampakan Bunda Maria. Masyarakat segera menyadari
adanya orang buta yang dapat melihat, orang tuli yang dapat
mendengar, orang bisu yang dapat berbicara setelah mereka hadir
dalam salah satu penampakan-penampakan Bunda Maria. Mereka yang sakit jasmani,
yang cacat, melihat Bunda Maria, dan dengan iman mereka akan
Tuhan kita Yesus Kristus, disembuhkan oleh Allah Bapa, lewat
penampakan Bunda Maria.
(Perlu juga
diketahui, dengan kuasa kudus Tuhan, orang-orang yang sakit
jasmani di Gereja Zeitun yang beriman teguh, juga disembuhkan,
meskipun mereka tidak melihat penampakan Bunda Maria.)
Juga, di
hari-hari Tuhan Yesus tinggal di dunia, Bunda Maria memohon padaNya
atas nama orang lain. Maria
sendiri tidak memiliki kuasa untuk membuat mukjijat. Hanya
dengan kehadirannya bersama Anaknya, Yesus Kristus, dan dalam
ketulusan permohonannya, kita mendapatkan mukjijat pertama
di Kana. Sekarang, lewat perantaraannya,
kita dapat hidup lewat pembaharuan iman, bukan kita yang membuatnya,
tetapi Dia yang secara terus menerus memberikan mukjijat dalam
cinta yang tak putus-putus.
Kesaksian
akan kesembuhan di Zeitun kemudian didata, diuji dan didokumentasikan
oleh sebuah komisi yang terdiri dari 7 orang dokter dan profesor. Bapa
Suci Kyrollos VI, Paus dari Alexandria. sendiri yang memerintahkan
hal ini. Tidak
dapat disangkal lagi, mukjijat kesembuhan benar-benar terjadi. Sembuh, tanpa dapat dijelaskan
secara medis, memang terjadi dalam setiap penampakan Bunda
Maria.
Saya yakin,
Maria memiliki setiap nama dan identitas dari orang yang disembuhkan
didalam hatinya, didata di dunia, diuji dalam penampakannya
dan didokumentasikan di surga. Setiap
dari mereka yang sembuh tahu akan dirinya dan kita dapat bersukacita
bersama mereka dalam kemuliaan kuasa Tuhan. Dalam tahun-tahun setelah
penampakan Maria, mukjijat kesembuhan terus berlanjut di National
Shrine of Our Lady of Zeitun. Saat
kesembuhan itu diberitakan oleh mereka yang beriman, mereka
semua terpesona dan kagum akan kemuliaan Tuhan.
Tetapi,
tidak semua yang hadir mengalami mukjijat kesembuhan baik dari
sakit jasmani maupun rohani. Sudah
tentu, semuanya bergantung dari kehendak Allah yang kudus.
Saat kunjungan
saya ke Kairo di tahun 1974, Uskup Gregorius mengatakan pada
saya bahwa banyak orang yang dia ketahui mengalami pembaharuan
harapan dan kekuatan iman dalam Tuhan setelah melihat penampakan
Bunda Maria di Gereja Santa Maria. Banyak yang kembali mengunjungi
Gereja itu setelah lama meninggalkan Tuhan karena satu dan
lain hal.
“Seorang
pria yang cukup terkenal di Gereja karena kemurahan hatinya,
kebaikannya dan hidup kekristenannya, tiba-tiba berubah pikiran. Ia mengejek orang-orang yang
menghadiri kebaktian sambil bertanya, “apa yang dilakukan orang-orang
bodoh ini, membuang-buang waktu?” Ia juga pergi ke Gereja Zeitun
dan berbuat hal yang sama. Saat tiba disana, ia melihat
ribuan orang sedang berkumpul. Hal
ini menambah keyakinannya akan kesia-siaan percaya kepada Allah. “Bagaimana
mungkin Bunda Maria menampakkan diri disini?” Tiba-tiba, datanglah Maria
dalam kemegahannya di depan mata orang itu. Ia jatuh berlutut dan hingga
sekarang ia masih menyesali saat-saat dimana ia jauh dari Tuhan.”
Dalam 2
minggu terakhir bulan April hingga bulan Mei, kami mengalami
penampakan yang paling mulia dari Bunda Maria. Sejalan dengan penampakannya,
orang-orang yang berkumpul menjadi berlipat ganda. Pada
beberapa malam, diperkirakan hampir ¼ juta orang berkumpul
diseputar gereja. Seorang
kakak ipar saya menuliskan kesaksiannya:
“Kami harus
berdiri tegak dengan tangan di samping, hampir-hampir tak dapat
bernafas dan terdorong ke depan atau ke belakang karena sesaknya
pengunjung. Sesaat
setelah kita bergabung dalam keramaian, sangatlah tidak mungkin
untuk pergi dari sana. Kita
harus menunggu hingga mereka membubarkan diri saat matahari
terbit.”
Fawzia,
kakak ipar saya yang lain menulis bahwa pada hari saya meninggalkan
Kairo setelah kunjungan saya di tahun 1968 (sehari sebelum
FEAST OF THE ASSUMPTION), Bunda Maria menampakkan diri selama
10 menit di gereja itu pada pukul 6 sore “sama terangnya seperti
berjuta-juta matahari”. Dia
melihat Bunda Maria malam itu.
Dikarenakan
massa yang semakin membengkak jumlahnya dan sebagian dari mereka
menjadi bingung dan menganggap semuanya adalah cerita bohong,
pemerintah lalu mencoba melindungi rakyatnya. Beberapa petugas lalu mencopot
kabel-kabel listrik dan mengatakan semuanya adalah tipuan. Ada
juga yang memanjat pohon untuk naik ke kubah Gereja untuk mencoba
memegang bayangan. Petugas
melakukan penyelidikan hingga radius 15 mill untuk memastikan
bahwa memang digunakan alat-alat elektronik. Tetapi setelah melakukan
penyelidikan yang seksama dan berkat pertolongan Bunda Maria
yang terus menerus menampakkan diri, para petugas akhirnya
percaya bahwa memang Bunda Maria sendiri yang datang mengunjungi
mereka. Para petugas lalu membantu
mengamankan Gereja untuk dapat menerima kedatangan Bunda Maria
secara wajar.
Pemerintah
lalu membongkar hanggar yang memakan area sebelah selatan Gereja,
sehingga massa dapat tertampung. Dari pintu masuk hanggar
inilah pertama kalinya Bunda Maria tampak. Sebenarnya, beberapa orang
berpikir bahwa penglihatan yang mereka dapatkan dari atas kubah
gereja itu berasal dari refleksi yang datang dari hanggar. Tetapi, setelah hanggar itu
dibongkar, Bunda Maria tetap menampakkan dirinya.
Pohon-pohon
disekitar gereja juga ditebang sehingga massa tidak dapat memanjat
pohon yang dapat mengakibatkan mereka jatuh dan terluka. Yang paling besar pun
di pangkas hingga tidak dapat dipanjat lagi. Saat Bunda Maria menampakan
diri di dekat pohon palem, beberapa orang mengatakan itu adalah
refleksi pohon palem, tetapi setelah pohon palem itu juga di
pangkas, Bunda Maria tetap menampakan diri dengan cahayanya.
Pada 5 Mei
1968, sebulan setelah penampakan Bunda Maria yang pertama,
Bapa Suci Kyrollos VI menerbitkan Surat Kepausan yang menyatakan
keaslian penampakan itu. Bahwa
memang benar, Bunda Perawan Maria, Ibu dari Tuhan menampakan
dirinya. Kepercayaan
ini juga didasarkan bahwa Bunda Tersuci datang kembali sebab
dia pernah mengungsi ke Mesir bersama Anaknya, Yesus Kristus,
dan Yosef.
Gereja Santa
Maria di Zeitun memang terletak di dekat rute perjalanan Keluarga
Kudus saat mereka dikejar-kejar Herodes dan melakukan perjalanan
ke Mesir. Untuk
memperingati perjalanan ini, menurut tradisi, ada 14 perhentian
yang dibangun di sepanjang perjalanan. Banyak orang beriman yang
telah mendapatkan keteduhan dan rahmat setelah mengunjungi
perhentian-perhentian ini.
Komite Kepausan
menerima banyak kesaksian dan pernyataan resmi dari orang banyak.
Pastur Constantine,
seorang pastur di Gereja Santa Maria, delegasi pemerintah,
para saksi mata dari kaum Muslim, para Kristen dari aliran
yang berbeda dan para pejabat di dalam hirarki Gereja Coptic. Mereka
semua telah menyaksikan penampakan Bunda Maria satu atau lebih
kali.
Pada pertemuan
saya dengan Bapa Suci Kyrollos VI di tahun 1968, Bapa suci
memberitahukan tentang penampakan Perawan Maria dan memberikan
berkat pribadinya. Kesaksian
oleh Bapa Suci ini melampaui pengetahuannya untuk berkomentar
secara pribadi. Bapa
Suci menginginkan para orang beriman untuk datang ke Zeitun
dan mengalaminya sendiri. Untuk “meyakinkan diri mereka
sendiri” tentang kunjungan yang kudus ini. Apa yang diperlihatkan Bapa
Suci kepada saya mencerminkan bahwa pada waktunya, Tuhan akan
memperlihatkan buah-buah keberimanan kita.
Mengapa
Tuhan mengirim Bunda Maria pada waktu itu di tempat yang khusus? Diketahui bahwa Bunda Maria
tidak berbicara dan jika ada pesan-pesan lisan yang disampaikan,
pastilah tidak akan disebarluaskan. Saya pikir, lewat kebijaksanaan
Tuhan, kita di dunia ini sekali lagi diperingatkan akan rahmatNya
yang besar saat Ia turun ke dunia 2000 tahun yang lalu. Saat
Ia datang ke dunia dan menjadi serupa anak kecil yang digendong
Maria. Ia ingin menunjukkan pada
kita, bahwa Dia sangat amat menyayangi kita.
Pada tahun
1974, Pastor Xavier Eid, pastor dari Gereja Katolik Santa Maria
Pendamai, Garden City, Kairo mengatakan pada saya:
“Penampakan
di Zeitun adalah berharga untuk seluruh dunia. Mesir sangat membutuhkan
perhatian dan pertolongan Tuhan dalam masa-masa sulitnya. Ini merupakan salah satu
bukti bagi rakyat Mesir yang amat sangat religius. Penampakan ini juga membantu
Gereja Coptic Orthodox untuk lebih dikenal di seluruh dunia,
untuk memperbaiki kesalahpahaman selama ini. Gereja Coptic Orthodox selalu
taat menjalani penyembahan, kesalehan doa-doa dari para pastor
gurun pasir, pendalaman Alkitab dan puasa yang kesemuanya sudah
ditinggalkan oleh dunia barat. Para penganut Coptic Orthodox
berpuasa selama 200 hari dalam setahun. Seluruh praktek-praktek ini
akan lebih dikenal di dunia. Salah
satu cara yang dipilih oleh Tuhan, saya pikir, adalah penampakan
Bunda Maria yang telah membawa orang-orang dari seluruh dunia
ke Mesir dan ini membuat orang-orang mengerti akan tradisi
Coptic Orthodox.
Di bulan
Mei 1973, Bapa Suci Shenouda III diundang ke Roma oleh Bapa
Suci Paus Paulus VI. Inilah
kali pertama dalam kurun waktu 1600 tahun pertemuan dua Bapa
Suci dari Roma dan dari Alexandria terjadi. Mereka memperingati Santo
Athanasius, Bapa Suci ke-20 dari Alexandria. Dalam kunjungan ini, Bapa
Suci Shenouda III mengatakan pada Bapa Suci Paus Paulus VI
mengenai penampakan Bunda Maria di Zeitun di tahun 1968 dan
1969.
Foto diatas
menunjukkan kedua Bapa Suci sedang berdoa bersama di Gereja
Santo Petrus, Roma.
Awal tahun
1974, dalam surat kepada Yang Mulia Kardinal Stephanos I, saya
memohon pendapatnya yang dapat saya bagikan kepada orang-orang
lain mengenai penampakan Bunda Maria. Bapa Kardinal mengatakan
pada saya tentang penundaan kunjungannya ke Amerika. Bapa Kardinal adalah pemimpin
Coptic Orthodox di Mesir yang bergabung kembali dengan Roma. Bapa
Kardinal mengunjungi kami di New Jersey, tahun 1974, memberikan
berkatnya pada saya untuk apa yang telah saya kerjakan bagi
usaha Bunda Maria membawa semua jiwa kepada Tuhan Yesus Kristus
dan mengadakan Misa untuk kira-kira 800 anak-anak dari jemaat
kami. Pada saat awal penampakan
Bunda Tersuci, Bapa Kardinal dimintai tolong oleh teman karibnya
yang juga seorang Paus, Bapa Suci Paus Paulus VI untuk mengadakan
penyelidikan akan apa yang terjadi di Zeitun. Kata-kata pertama yang tertulis
dalam pernyataan Bapa Kardinal adalah : “Tidak diragukan lagi,
penampakan ini adalah nyata…” Kunjungan Bunda Maria ke
Zeitun sekarang menjadi sejarah gereja. Bunda Maria menampakkan diri
paling banyak disekitar Hari-Hari Raya. Pada Hari Raya ke-32, yaitu Hari
Raya Bunda Cahaya atau Bunda Zeitun, untuk menghormati penampakan
Maria di tempat ini, diperingati setiap tanggal 2 April. Pada perayaan pertama penampakan
di tahun 1969, foto dibawah ini digunakan untuk menandai saat
penuh rahmat dari kunjungan Bunda Tersuci yang dikirim oleh
Allah.
Sejak penampakan
Maria yang pertama, yaitu April 1968, beribu-ribu rakyat Mesir,
baik yang beragama Kristen maupun Islam, mulai berimigrasi
ke Amerika atau tempat lain di belahan dunia. Mayoritas yang datang ke
Amerika sekarang telah bergabung bersama komunitas kami dan
telah menjadi warga negara Amerika. Di
kota-kota yang lebih besar, dimana lebih banyak orang tinggal,
gereja-gereja Coptic Orthodox sekarang banyak dijumpai. Banyak
dari jemaat di gereja-gereja ini yang pernah menyaksikan penampakan
Bunda Maria di Zeitun.
Di tahun
1975, Yang Mulia Uskup Gregorius, salah seorang pemimpin gereja
Coptic Orthodox mengatakan pada saya:
“Bunda Maria
Perawan Tersuci atau Santa Maria menampakan diri dalam 10 cara
yang berbeda. Allah
mengirimnya dalam cara-cara yang alamiah yang dapat kita kenal. Saat ia menampakan diri,
ia akan menyapa gerombolan orang, membungkuk pada mereka, memberkati
mereka dan berbalik menghadap salib. Dalam 9 dari 10 penampakannya,
ia akan terlihat dalam sikap berdoa, sepertinya ia ingin mengatakan ‘lakukan
seperti apa yang saya kerjakan, dunia perlu doa-doa untuk penebusan’ dan
saya percaya, penampakan-penampakannya adalah persiapan selanjutnya
dari Kedatangan kembali Tuhan dan Penebus kita, Yesus Kristus.”
Beribu-ribu
orang tumpah ruah di Zeitun dan melihat Bunda Maria. Mereka terhibur dan terobati. Saat
para beriman menunggu dan berdoa, awan-awan serasa bergerak
menyatu, seperti sebuah kilatan cahaya yang memancarkan cahaya
tiba-tiba dan menerangi sekitarnya. Disanalah
Bunda Maria berdiri, dalam figur yang penuh berarak perlahan-lahan
dan anggun di udara, berdiri di atas kubah gereja atau pohon
palem dengan satu kakinya seperti menginjak pohon palem, atau
terkadang terlihat berdiri di atas tanah. Bajunya dan kerudungnya bergerak
tertiup angin. Dia
bergerak dari sisi yang satu ke sisi yang lain dan semuanya
tampak jelas sekali.
Untuk menggambarkan
penampakan Bunda Maria yang membawa rahmat Tuhan secara penuh,
kami mengambil kesimpulan dari penampakannya itu, sekali lagi,
untuk membawa kepada kita pembaharuan harapan dan penghiburan
dalam Anaknya, Yesus Kristus. Sebuah hadiah yang diberikan
secara cuma-cuma oleh Tuhan.
Dia memberikan
hidupnya untuk kita di gunung Kalvari, bangkit dari mati, sekarang,
Yesus Kristus yang telah bangkit mengirim Bunda Maria untuk
mengingatkan kita akan kasihNya yang besar.
Kita dapat
mengatakan, cerita dari Zeitun adalah sebuah tanda nyata dari
peristiwa adikodrati. Dampak
dari penampakan-penampakan itu terangkum dalam waktu yang akan
terus diingat. Pesan
dan arti penampakan itu akan terus berkembang dalam Roh Kudus. Pesan-pesan
yang dinyatakan kepada para beriman dan siapa saja mungkin
dapat di pelihara dan direnungkan hingga kedatangan kembali
Tuhan kita Yesus Kristus.