Pernah ada anak lelaki yang mempunyai watak
buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh
memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan
kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.
Hari pertama dia memaku tiga puluh batang di pagar. Pada minggu
- minggu berikutnya, dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah
paku yang di pakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan
bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya,
tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun
dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya
kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap
hari bila dia berhasil menahan diri atau bersabar.
Hari - hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan
kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang
ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata, "Anakku, kamu sudah
berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada
di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu
sudah berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal
itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar. Kau bisa menusukkan
pisau di punggung orang dan orang mencabutnya kembali, tetapi
akan meninggalkan luka. Tak perduli berapa kali kau meminta
maaf atau menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama
perihnya seperti luka fisik.
Kawan - kawan adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu
tertawa dan memberimu semangat. Mereka sudi mendengarkan jika
itu kau perlukan. Mereka menunjang dan membuka hatimu. Betapa
kau menyukai mereka. "Keindahan persahabatan adalah bahwa kamu
tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia."
|